Skip to main content

Dipuji Lebih Santun dari Najwa Shihab, Ini Sosok Wimar Witoelar yang Acara Talkshownya Dibungkus Soeharto


 Wimar Witoelar, presenter acara talkshow pada tahun 90-an, menghembuskan napas terakhirnya pada Rabu (19/5/2021). Kepergian Wimar Witoelar meninggalkan sejumlah kenangan, termasuk saat dia memandu acara talkshownya yang dipuji lebih santun dari Najwa Shihab. 

Wimar Witoelar yang meninggal di usia 75 tahun akibat sepsis ini memiliki acara program televisi yang dipandunya seperti Perspektif (1994) di SCTV.

Melalui acara ini, Wimar Witoelar melontarkan sejumlah kritik kepada penguasa Orde Baru dan pemerintahan Presiden Soeharto.

Sosok Wimar Witoelar makin dikenal secara luas setelah mendapat kepercayaan dari Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

 

Wimar Witoelar dikenal sebagai seorang reformis dan jurnalis yang berani memberikan kritik keras, namun secara jenaka dan ringan. 

Pada 1974, Wimar Witoelar juga pernah dipenjara karena melawan Orba. 

Wimar Witoelar sempat menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung kemudian pindah ke George Washington University, Washington Amerika Serikat.

Wimar Witoelar lulus pada 1975 dengan gelar MBA di bidang Keuangan dan Investasi. Wimar Witoelar juga mendapatkan gelar master dalam Analisis Sistem dan gelar di bidang Teknik Elektro.

Istrinya, ahli saraf Suvatchara Witoelar, meninggal dunia pada 2003. Bersama Suvatchara, Wimar Witoelar memiliki dua putra Satya Tulaka (1975) adalah seorang arsitek dan pengembang web yang pernah bekerja di Yahoo dan Aree Widya (1978), PhD di bidang matematika dan ilmu komputer.

Wimar Witoelar, kepala juru bicara demokrasi segala zaman, semenjak kanak-kanak hingga tua dan dalam rezim berbeda.

Pada saat anak-anak (mulai usia 12 tahun) sudah senang bicara politik sama seperti anak muda usia 24 tahun.

Sebaliknya, saat usianya hampir memasuki kepala enam, dia akrab dalam komunitas Friendster, yang umumnya adalah anak muda.

Semasa usia kanak-kanak, ia senang baca Si Kucung, Wimar Witoelar sudah senang baca Time dan Newsweek. Pada saat mahasiswa, dia aktivis yang bersuara politik nyaring tak ubahnya seorang politisi dan pejuang demokrasi sungguhan.



Pada tahun 1978, bahkan memproklamirkan diri sebagai calon presiden alternatif sebagai reaksi nyata penolakan calon tunggal presiden.

Lelaki dengan gaya khas berambut keriting dan tubuh tambun ini lahir di Padalarang, Jawa Barat, pada 14 Juli 1945, dengan nama lengkap Wimar Witoelar Kartaadipoetra.

Almarhum merupakan anak bungsu dari lima bersaudara dari pasangan Raden Achmad Witoelar Kartaadipoetra dan Nyi Raden Toti Soetiamah Tanoekoesoemah.

Wimar Witoelar adalah adik Rachmat Witoelar, Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu serta adik ipar dari Erna Witoelar yang juga mantan Menteri Indonesia.

Wimar Witoelar juga seorang kolumnis media massa lokal dan internasional (Today, Business Week, News week, Australian Financial Review), komentator TV (ABC, CNBC, CNN).

Wimar Witoelar juga sering dipercaya untuk menjadi pembicara dalam berbagai acara internasional dalam bidang politik dan ekonomi seperti di Sydney, London, Washington, New York, Singapura.

Sebelum ditunjuk menjadi Juru Bicara Presiden Gus Dur, Wimar Witoelar sudah terkenal seorang tokoh yang sering muncul dan menjadi host di TV sekembalinya dari Amerika Serikat.


Pada tahun 2000, Presiden Indonesia ketika itu, Gus Dur, menunjuk Wimar Witoelar sebagai juru bicara.

Dalam berbagai wawancarannya, Wimar Witoelar mengaku bangga menjadi juru bicara Gus Dur yang dipandang sebagai sahabat dan juga gurunya. Tidak heran, sebagai juru bicara, Wimar Witoelar merasa tidak pernah dibatasi oleh sang Presiden.

 

Di era Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), Wimar Witoelar berperan aktif dalam isu-isu lingkungan melalui perusahaan kehumasan InterMatrix Communications (IMX).

Wimar Witoelar juga aktif mendukung kampanye Presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin pada Pemilu 2019 lalu.

Pendiri Yayasan Perspektif Baru (YPB) tersebut juga mendukung mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam kasus penistaan agama 2016 lalu.

 

Kritik Wimar Witoelar dilontarkan terhadap pemerintahan Orde Baru melalui program televisi yang dipandunya seperti Perspektif (1994) di SCTV, yang kemudian dihentikan oleh mantan Presiden Soeharto.


Kiprah Wimar Witoelar begitu saja muncul sekoyong-koyong pada tahun 1994 di sebuah stasiun televisi swasta sebagai pemandu acara talkshow Perspektif.

Disebut sekonyong-konyong, sebab ketika itu semua hal nyaris gelap dan tak jelas, tertutup oleh otoritarianisme rejim yang sedang berkuasa.

Wimar Witoelar tiba-tiba hadir dalam Perspektif mencerahkan setiap pemirsa. Ketika itu, ia adalah oase yang memberi kesegaran di padang gurun ketidakbebasan berpolitik secara demokratis.

Acara talkshow Perspektif mengundang bintang tamu beragam, mulai dari seorang anak kecil yang sehari-hari bekerja sebagai joki three in one di kawasan pembatasan penumpang lalu lintas Jalan Sudirman-Thamrin Jakarta, hingga seorang guru besar seni rupa ITB Bandung Prof Sujoko.

Lewat mereka, Wimar Witoelar secara santun tapi humoris dan tajam mampu mencelikkan mata hati demokrasi setiap orang bahwa bangsanya sesungguhnya tidaklah demokratis. Baik itu di bidang politik, ekonomi, hukum, social dan budaya.

Termasuk tak demokratis di bidang bahasa yang larut dicemari jargon dan slogan tak bermutu.


Gaya santun Wimar Witoelar sempat dibandingkan dengan penampilan Najwa Shihab yang cenderung "menyerang" bintang tamunya dalam acara Mata Najwa.

Wimar Witoelar lewat Perspektif menjadi simbol perlawanan politik dari seorang penganut paham citizen politician.

Wimar Witoelar yang gemar nonton sepakbola, itu ibarat seorang diri di lapangan kosong menjadi penyerang tengah yang hendak membobol gawang keterkungkungan demokrasi atas nama politik ekonomi pembangunan.

Wimar Witoelar secara satire hadir membuka buruk rupa rezim Orde Baru lewat dialog-dialog hangat Perspektif.

Wimar kembali ke dunia pertelevisian melalui acara Selayang Pandang (1997-2000) di Indosiar.


Tak banyak yang tahu bahwa Wimar sedang mengkritisi rezim yang sesungguhnya dahulu ikut didirikannya.

Wimar Witoelar awalnya bangga dan berharap Soeharto mampu menyelesaikan keterpurukan bangsa pasca era Bung Karno.

Wimar Witoelar lalu terlibat aktif mendirikan Golongan Karya di Bandung dengan cara memobilisasi mahasiswa.

Wimar Witoelar menyebutkan merasa perlu mendukung pemerintahan Orde Baru di awal-awal kebangkitannya, karena Soeharto dilihatnya masih lurus dan mau mendengarkan pendapat orang banyak.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar