Skip to main content

Kisah Ayah dan Anak Pemulung di Banda Aceh, Ketika Pekerja Kemanusiaan Mengungkap Fakta Berbeda

Setelah berbagai kejadian, Ratna coba menasihati Amri sekaligus mengancam akan mengambil kembali rumah yang ditempatinya jika Rafli masih dibawa pergi memulung. Tapi, Amri memberikan penawaran. Menurut Amri, dirinya boleh saja tak lagi membawa Rafli ke jalanan, asalkan Ratna sanggup memberikan uang kepadanya Rp 200 ribu per hari.

Kisah ayah dan anak pejalan kaki yang berprofesi sebagai pemulung di Banda Aceh, ternyata menyimpan beberapa kisah tak biasa. Sedikit demi sedikit, terkuak fakta di balik realita. Amri Syafrizal (41) bersama anaknya Muhammad Rafli (5) sempat menjadi sorotan. Keberadaannya yang setiap hari berjalan kaki hingga puluhan kilometer di kawasan Banda Aceh, menimbulkan tanda tanya bagi pengguna jalan. Ternyata, ayah dan anak ini berjalan kaki mencari botol bekas minuman untuk dijual alias memulung.

Kisah pria dan anak pejalan kaki ini viral di media sosial setelah diangkat Serambinews.com, Senin (7/12/2020) dan Serambi Indonesia edisi Rabu (9/12/2020). Banyak warganet mengungkapkan rasa haru dan simpati atas kondisi kehidupan Amri dan Rafli.

Hingga kemudian, salah seorang pekerja kemanusiaan di Banda Aceh bernama Ratna Eliza (45), mengungkap fakta berbeda. Dalam postingan di Facebooknya, Ratna yang mengomentari tulisan tentang Amri di koran Serambi, memberikan penjelasan panjang lebar tentang keberadaan pria dan anak ini.

Staf Keuangan Lab School Unsyiah dan Founder C4 ini menjelaskan, keluarga Amri Syafrizal sudah pernah mendapatkan bantuan dari sejumlah pihak. Tapi, ternyata bantuan itu tidak mengubah pola hidup Amri dan anaknya. Serambi kemudian menghubungi Ratna Eliza untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut mengenai postingannya di Facebook.

Pengalaman mendebarkan

Ratna Eliza menceritakan, awal mula pertemuannya dengan Amri karena ia merasa kasihan melihat Rafli dibawa ayahnya memungut botol bekas atau memulung. Pertemuan tersebut berlangsung dua tahun lalu, Ratna mengikuti Amri ke tempat mereka tinggalnya di Desa Neuheun, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar.

Keluarga Amri tinggal di rumah beratap seng dan beralas tanah. Karena merasa sedih dan prihatin, Ratna bersama teman-teman kemudian menggalang donasi. Saat itu, sebutgnya, turut serta Khairul Fahmi dan Mahdalena dari SOS Children, serta Lely dari Peksos Dinsos. SOS Children's adalah organisasi sosial nirlaba nonpemerintah yang aktif dalam mendukung hak-hak anak.

Setelah donasi terkumpul, rumah saudara dari Lely (Peksos Dinsos) di Ujong Batee terbeli dan diserahkan kepada Amri. Syaratnya, Amri tak boleh lagi mengajak anaknya turun ke jalan, karena tidak baik untuk kondisi psikis Rafli. Setelah rumah diserahkan, Mahdalena dari SOS Children berencana menitipkan Rafli ke SOS untuk mendapat asuhan dan pendidikan yang layak. Rumah selesai diserahkan, tapi Amri kemudian memperlihatkan ulah. Dengan membawa parang, Amri datang ke SOS untuk mengambil kembali Rafli dengan berbagai alasan.

Ratna Eliza juga berbagi cerita tentang istri Amri yang dievakuasi untuk menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh. Namun, menurutnya, kemudian istri Amri dikeluarkan dari RJS karena dalam kondisi hamil.

Setelah kejadian tersebut, kata Ratna, Amri mulai membuat keributan dengan tetangga barunya. Ratna bahkan sampai dipanggil keuchik setempat, karena ulah Amri yang sering bermain parang jika emosinya melonjak.

Setelah berbagai kejadian, Ratna coba menasihati Amri sekaligus mengancam akan mengambil kembali rumah yang ditempatinya jika Rafli masih dibawa pergi memulung. Tapi, Amri memberikan penawaran. Menurut Amri, dirinya boleh saja tak lagi membawa Rafli ke jalanan, asalkan Ratna sanggup memberikan uang kepadanya Rp 200 ribu per hari.

Bantuan mati semua

Ratna juga bercerita, ia dan teman-temannya pernah mengusulkan Amri untuk menjadi tukang parkir, namun ia menolaknya. Lalu, Amri meminta diberikan ayam untuk diternak. Namun, ayam yang diberikan itu ternyata dipotong semuanya dan dijual oleh Amri.

Ratna menceritakan, ada anak Amri yang meninggal saat masih berusia beberapa bulan, setelah tertimpa kain yang ditumpuk di kasur. Selain itu, ada anaknya yang lain tinggal bersama kakek dan neneknya yang berprofesi sebagai pengemis.

Ratna sempat menanyakan mengapa Rafli sering dibawa memulung. Amri menjelaskan kepada Ratna bahwa Rafli tidak mau ditinggal di rumah. Padahal, saat ini ada ibu dan kakaknya di rumah. Begitulah, sekilas lanjutan kisah Amri dan Rafli, pria dan bocah pejalan kaki di Banda Aceh
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar